Catatan Harian Si Sulung

Sunday, February 24, 2008

Dibacakan Buku

Tadi siang saya mengembalikan buku perpustakaan yang dipinjam anak-anak dua minggu yang lalu. Sudah lewat sehari sebenarnya, tapi perpustakaan di sini tak memberi sangsi apa-apa. Setelah mengembalikan, saya kembali meminjam lima buku yang lain. Dua buah seri Peter Rabbit, tiga lainnya cerita rakyat; satu tentang hantu yang kena sihir, satu lagi tentang robot, dan satu lagi saya lupa.

Sebenarnya saya agak ragu untuk meminjam buku di perpustakaan, berat rasanya mengembalikannya. Khawatir tidak sempat, khawatir pula tak kesampaian membaca semuanya. Tapi saya pikir, acara meminjam buku di perpustakaan ini perlu bagi anak-anak. Tak apa mereka tak sempat membaca semuanya. Yang penting, mereka akrab dengan buku dan kebiasaan membaca.

Malam ini, dengan mata yang sudah berat saya tinggalkan suami dan adik ipar yang sedang makan malam di bawah. Saya janji tadi untuk membacakan cerita buat anak-anak, kata saya. Setelah mencuci muka, sikat gigi dan berwudhu di wastafel, saya pun naik ke atas.

Si Bungsu sudah tidur sejak dua jam yang lalu, kecapean seharian main tidak tidur siang. Si Tengah ternyata belum juga ganti baju tidur, ia belum berhasil menemukan semua perlengkapannya : kaos dalam musim dingin, baju luar, dan sweater. Sambil mencarikannya, saya katakan pada Si Sulung agar menunggu saya selesai salat, jangan tidur dulu. Mau saya bacakan buku.

Saya menyukai saat-saat keduanya pelan-pelan menutup mata "dalam buaian" bacaan buku. Apalagi bila adik mereka sudah lebih dulu tidur. Saya jadi bisa lebih konsentrasi melayani pertanyaan mereka. Dan tentu saja karena mereka dapat tempat tepat di samping saya, dua-duanya.

Tapi tak saya sangka, Si Sulung mengomentari permintaan saya tadi itu dengan perkataan yang mengharukan,

"Mama, kalau capek, tidak baca buku juga tidak apa-apa kok. Tapi, kalau mau juga ya tidak apa-apa."

Sunday, February 11, 2007

Orang Jepang Salah..., Bagaimana Kalau Kita yang Salah?

Si Sulung tadi bertanya, mengapa Bapak dan Ibunya bisa begitu yakin bahwa menjadi orang Islam adalah pilihan yang paling benar. Mengapa, pilihan orang Jepang menyembah matahari dan segala macamnya, adalah salah?

Saya termenung dengan pertanyaannya. Berat sekali menjawabnya. Saya cuma bisa bilang, "Nanti kalau kamu sudah semakin besar, Mama akan menjawabnya. Hanya saja, Mama dan Bapak memilih menjadi orang Islam dengan belajar. Bukan karena Nenek dan Kakek orang Islam, sehingga Mama dan Bapak menjadi orang Islam juga."

"Lalu, kenapa orang Jepang, apakah mereka tidak belajar?"

"Ya, banyak orang yang tak lagi merasa perlu belajar. Banyak yang merasa cukup dengan mengikuti kebiasaan orang tua mereka. Dari dulu Jepang melakukan ini dan itu, sampai sekarang, orang-orang juga menurutinya."

"Oh, seperti cerita Nabi Nuh, ya Ma? Mereka tidak mau mendengar Nabi Nuh karena mereka sudah merasa cukup dengan ajaran orang tua."

"Ya, begitulah."

Dalam kepala saya jawabannya yang lebih kompleks menari-nari, tapi usia Si Sulung masih terlalu muda untuk menerimanya. Tentang perbandingan kitab-kitab, tentang logika penjagaan keotentikan kitab suci, tentang...

Ah Nak, Mama senang kamu bertanya seperti itu, di usiamu yang masih delapan tahun. Meskipun mungkin akan lebih berat nantinya mengajarimu, tetapi Mama berharap engkau akan menemukan jalan kebenaran itu dengan proses yang benar. Bukan doktrin, dan bukan ikut-ikutan.

Saturday, November 18, 2006

Terjemahan Doa

Musim dingin begini, lumayan berat buat Si Sulung untuk salat subuh. Kami pun bersama mengucapkan doa bangun tidur. Tak hanya lafaz doanya dalam bahasa Arab, tapi sekalian dengan terjemahannya : segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku setelah aku mati. Setelah itu berlanjutlah dialog, apakah memang orang tidur itu mati? Saya menjawab sederhana saja, orang tidur dalam banyak hal sama dengan orang mati : tidak bisa bicara, tidak melihat, tidak mendengar. Dan memang tidaklah mustahil orang tidur tidak bangun lagi, dan karenanya sudah sepatutnya kita bersyukur kalau bisa bangun lagi.

Tapi bukan itu sebenarnya intinya yang membuat saya merasa perlu datang ke komputer dan mencatat lintasan pikiran yang menggaggu, mendesak-desak di kepala minta disalurkan dalam bentuk huruf-huruf.

Saya jadi ingat masa kecil saya, sd, smp... Di mana saya diajari untuk menghafal beberapa lafaz doa. Juga surat al-Qur'an. Lalu saya merasa doa itu seperti mantra-mantra, yang karena mengucapkannya maka ada kekuatan sihir yang akan datang menolong saya. Lebih konyolnya lagi, ketika saya merasa kengerian sendirian di kamar, saya meletakkan al-Qur'an di dekat bantal saya, dan saya pun merasa lebih aman.

Padahal, saya kini yakin, masalahnya bukan pada lafaznya semata. Bukan pada masalah lembaran-lembarannnya, tulisan di atas kertas. Tapi lebih kepada pemahaman kita sendiri, semangat spiritual kita sendiri yang lahir di dalam hati, berpengaruh pada aura ruh kita, yang akan menentukan ampuh tidaknya lafaz-lafaz itu.

Kalau saya jadi guru agama di sekolah, saya tidak akan meminta murid-murid saya menghafal lafaz, tapi juga arti lafaz itu. Sedikit-sedikit, asal benar-benar paham.

Friday, November 03, 2006

Mulai Berinisiatif


Kemarin malam, Si Sulung pertama kali mencuci piring. Bukan mencuci satu-dua buah saja, tapi sekalian satu tempat cucian piring, dari sendok-garpu-sumpit, mangkok kecil-besar, piring kecil-besar, gelas kecil-besar.

Saya tidak ingat persis apa pencetusnya sehingga dia mau melakukannya. Kalau tak salah ingat, sepertinya ada yang dia lakukan sebelumnya dan kami memujinya, dan itu sangat menyentuh perasaannya.

Tadi pagi, saya mengucapkan terima kasih lagi padanya.

"Mama tertolong sekali kamu mencuci piring tadi malam."

"Kenapa?"

"Ya, coba bayangkan kalau kamu tidak mencuci piring. Pagi-pagi begini tentu sudah menumpuk membuat sakit kepala. Mau minum tidak ada gelas yang bersih, mau makan tak ada piring dan sendok yang bersih."

Setelah mengucapkan itu dia tak berkomentar apapun. Namun selang dua jam kemudian, saat sedang sarapan, dia kembali bertanya, "Mama, benar-benarkah sangat tertolong saya mencuci piring tadi malam?"
Ya, saya kembali mengiyakan. Sampai di situ. Saya tak ingin membesar-besarkan prestasinya secara terlalu berlebihan, karena pujian yang kelewatan biasanya berefek sebaliknya : menurunkan semangat.

Siang hari, saat saya sedang membereskan jemuran yang telah kering, Si Sulung berteriak dari bawah (kamar untuk menjemur ada di lantai dua), meminta saya menjatuhkan popok adiknya dan kain lap. Rupanya adiknya membuka sendiri celana panjang dan popoknya, lalu pipis di lantai. Si Sulung berinisiatif melap kencing adiknya, membasuh (mencebok) adiknya di kamar mandi, memakaikan popok baru, dan juga celananya.

Saya sungguh terharu. Saya katakan padanya, dia hebat sekali hari ini. Dalam hati, saya melihat ini sebagai satu fase baru dalam hidupnya. Sebuah perkembangan yang sangat saya syukuri. Tapi tentu tak sampai di situ saja. Masalahnya kemudian bagaimana memelihara dan memupuk satu sisi pribadi baik yang baru muncul ini. Salah bertindak, alih-alih menumbuhkan, bisa-bisa malah melemahkan. Menulis begini, buat saya, adalah salah satu cara saya memelihara dan memupuk itu : menyadarkan saya akan ingatan dan kesadaran renungan ini (syukur-syukur kalau dapat sharing pendapat dari teman yang lain).

Oh iya. Semalam, adiknya yang laki-laki itu merengek minta diizinkan juga mencuci piring. Tapi tidak saya iyakan, karena dia sudah sangat mengantuk dan tentu saja, di usia lima tahunnya, rasanya belum pas untuk mencuci piring sebanyak itu. Selain itu tentu saja karena kakaknya sudah lebih dulu melakukannya. Tapi, mendidik anak laki-laki ini untuk juga trampil mengerjakan pekerjaan rumah, sudah jadi agenda saya sebagai ibu. Saya tak ingin dia menjadi laki-laki 'asia', yang menganggap kelelakiannya membuatnya tidak pantas banyak mengerjakan pekerjaan rumah yang remeh dan kecil-kecil.

Tuesday, September 05, 2006

Tidak pergi ke Kumon


Tadi pagi, mata Si Sulung merah. Kata bapaknya, semalam dia baru tidur jam 11. Padahal biasanya jam 9. Saya tidak tahu apa yang dia kerjakan : apakah lagi tidak bisa tidur, atau karena mengerjakan pr matematikanya? Waker-nya bunyi jam 4.30 pagi, meskipun kemudian Bapaknyalah yang mematikannya dan dia akhirnya bangun jam 6. Matanya merah, dan saya agak khawatir dia akan jatuh sakit.

Hari ini ada olahraga berenang di sekolahnya, dan juga hari pertama sekolah penuh, dari jam 8 sampai jam 3. Ketika dia pulang, dia bilang tadi di sekolah ngantuk sekali. Untuk itu, saya minta dia tidur-tiduran saja dulu. Kebetulan memang ada kasur yang tergelar di depan televisi, di ruangan bawah, yang ada pendinginnya.

Barangkali juga cuaca yang berganti-ganti dari dingin ke panas, panas ke dingin ini yang membuat Si Sulung agak kelelahan. Dua hari yang lalu, Minggu, kami memang pergi ke tempat yang cukup jauh, ke Chiba. 3 jam dari rumah. Mau melihat Dinosaurus Expo, yang diadakan di Jepang dua tahun sekali. Pergi dari jam 7.20, sampai rumah kembali jam 8 malam. Senin keesokan harinya, saya masih merasa capai sekali. Tentunya anak-anak juga demikian halnya.

Sepulang sekolah ini, Si Sulung tidur nyenyak sekali. Tak berubah posisi. Saya tak tega membangunkannya untuk pergi kursus Kumon. Biarlah dia tidur. Biarlah bolos sekali ini. Saya tak ingin dia merasa dipaksa sewenang-wenang pergi kursus ini dan itu. Meskipun memang bayar Kumon itu cukup mahal, tapi bukankah "kesehatan jiwa" anak-anak itu juga cukup mahal untuk dipelihara?

Wednesday, July 19, 2006

Kepekaan Rasa Disiplin

Ketika Mama dan Bapak datang dulu, kami menetapkan gelas masing-masing orang. Mama warna hijau, saya dan ambonya 3F warna biru, Fatimah putih, Fadhl kuning. Ketika Mama dan Bapak sudah pulang, saya jadi tak begitu peduli dengan aturan gelas masing-masing orang. Apa yang bisa ada, itu yang dipakai.

Si Sulung lalu berkomentar, "Lalu buat apa kemarin kita mengatur warna-warna gelas? Tak ada gunanya dong."

Saya pikir, 'analisa' manfaat aturan dan kedisiplinan mulai tumbuh dalam diri Si Sulung. Kayaknya karena sudah terbiasa di lingkungan sekolahnya.

Peduli aturan memang kental di masyarakat sini, dan mereka terbiasa menganalisa sebab-sebab buruk bila tak mematuhi aturan.

Setiap waktu makan siang di sekolah, anak-anak diberi susu dalam kemasan kotak kardus. Anak-anak kelas satu, satu minggu sebelum mulai makan di sekolah, dilatih dulu bagaimana cara melipat kotak susu ketika mau dibuang. Kotaknya dipipihkan. Tujuannya, agar mobil pengangkut sampah tak penuh oleh kotak susu yang sebenarnya hanya berisi udara. Kalau dipipihkan, jadi bisa diangkut sekaligus lebih banyak.

Si sulung sensitif mengawasi saya buang sampah.

Tuesday, July 18, 2006

Cerita Musim Panas


Sebentar lagi, masa belajar trisemester pertama selesai. Setelah itu masuk liburan musim panas, selama 40 hari : 21 Juli - 29 Agustus.

PR yang mesti dikumpulkan hari ini adalah cerita musim panas. Berikut cerita Si Sulung (ditulis di lembaran kerja):

=======

2006年7月14日 金曜日 天気:晴れ

きょうが学校で休み時間にいつも水をごくごく飲みました.それはあつくてあせがだれだれたれてるからです.

2年生の4月にミニトマトをうめました.それでも今は7月14日なのにまだミニトマトはさいています.ええ,そんなにできるの?と思っていました.

それでむしのちょうちょがすごいきれいなもようのちょうちょがいました.その色はあおういのみどりがまざった色でした.とってもきれいだなあと思っていました.

========

14 Juli 2006. Jumat. Cuaca : Cerah.

Hari ini di sekolah, setiap jam istirahat, saya minum air gluk-gluk-gluk. Itu karena panas sekali dan keringat tumpah-tumpah.

Anak kelas dua di bulan April menanam tomat kecil. Sampai sekarang, 14 Juli, masih bermekaran. Eee, bisa sampai sebegitu (lama), ya... Pikir saya.

Sudah itu, ada serangga kupu-kupu yang cantik sekali. Sayap kupu-kupu itu berwarna hijau dan biru bercampur-campur. Cantik sekali... pikir saya.